Selasa, 27 November 2012

Mendongeng Salah Satu Cara Meningkatkan Minat Baca dan Hargai Sejarah


Mendongeng, apa yang terlintas di benak teman-teman mendengar kata-kata itu? Cerita kancil mencuri timun pak tani? Namun mendongeng yang satu ini berbeda, mendongeng akan sejarah bangsa Indonesia. Sejarah pahlawan yang rela berjuang jiwa raganya demi Negara Indonesia ini.. Lomba ini diadakan mandiri oleh kabupaten Sleman. Dimana tujuannya adalah meningkatkan minat baca siswa-siswi yang berada di wilayah Sleman khususnya dan juga untuk mengenang jasa-jasa pahlawan. Agar apa yang dilakukan pahlawan dahulu dapat menjadi tauladan bagi calon-alon penerus bangsa saat ini. Peserta mendongeng ini meliputi sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang khusus ada di kabupaten Sleman. Karena event ini adalah evet mandiri yang dibuat kabupaten Sleman. Total dari keseluruhan peserta adalah 258. Tahap seleksi awalnya 258 mengirimkan synopsis dari salah satu tokoh pejuang kemerdekaan seperti Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, seluruh pahlawan nasional dari sabang sampai merauke. Semua bukunya disediakan di kantor perpustakaan daerah Sleman. Dari 258 itu diambil 50 untuk mengikuti tahap seleksi berikutnya. Dan dari 50 peserta yang tersisa diambillah sepuluh peserta yang terdiri lima laki-laki dan lima perempuan. Persaingan semakin ketat, hampir setiap peserta yang masuk ke babak final memiliki kelebihan masing-masing dan akhirnya dari sepuluh peserta tersisa diambil lima pemenang. Seleksi terakhir memang cukup berat karena peserta hanya diberikan waktu satu minggu untuk mempersiapkan dan harus tampil tanpa text. Peserta juga dibebaskan untuk mengenakan kostum yang sesuai dan mendukung dalam performanya. Kriteria penilaian meliputi 3 aspek yaitu keruntutan cerita, analisisa dan hal-hal yang perlu diteladani dari tokoh yang diambil. Kreatifitas dari masing-masing peserta dituntut disini. Dimana peserta diharapkan mampu menampilkan yang berbeda dari teman-teman yang lain, mampu mengeskplore dirinya untuk mengembangkan ketiga point penting penilaian tersebut. Tidak hanya dewan juri yang terpukau akan kemampuan para peserta. Wakil Bupati kabupaten Sleman yang saat itu menyaksikan langsung juga turut kagum akan kemampuan peserta yang luar biasa. Seperti yang disampaikan Bapak Gatot Marsono, salah satu dewan Juri tingkat sekolah dasar melihat kemampuan peserta lomba “ Sebaiknya pemerintah segera merubah kurikulumnya, sejarah perjuangan bangsa harus wajib ada di pembelajaran. Karena kalo anak didik kita saja tidak tau sejarah lahirnya bangsa secara otomatis juga tidak mengetahui jati diri bangsa. Jadi sejarah itu wajib, karena dengan sejarah kita dapat mengetahui bagaimana suatu bangsa itu. Bahkan ada pepatah mengatakan bangsa yang maju adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawan perjuangannya”. Meylia Candra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar