Hembusan angin malam menyusup sampai ke tulang. Dinginnya malam membuatnya malas untuk pergi. Hari ini daerah Jogja dilanda hujan seharian sehingga membuat seaakan semua aktivitas luar terhenti untuk sejenak. Begitupula dengan Clara. Yah , Clara begitu banyak orang memanggilnya. Gadis kecil dengan mata yang indah, wajahnya putih bersinar dengan kedua lesung pipi yang membuatnya semakin luar biasa. Perfect.
Clara duduk termangu disudut rumahnya yang bisa dibilang point view. Bagian di salah satu rumah yang di design bisa mengamati seluruh keadaan luar dengan leluasa. Tapi suasana mala mini tak sindah biasanya. Langit hitam kelam, membuat bulan tak leluasa untuk menampakkan wajahnya untuk menerangi gelapnya malam..
Hari ini, malam 1 Suro begitu orang Jawa menyebutnya. Bertepatan dengan 6 Agustus. Dimana malam iniadalah malam yang sakeral. Biasanya digunakan oleh masyarakat Jogja khususnya untuk berkumpul begadang dan melakukan kenduri di daerah mereka masing-masing. Tak lain dengan para pejabat biasanya juga melakukan tirakatan di Keraton Yogya.
Malam ini Clara lain dengan hari-hari biasanya. Hari ini dia lebih banyak diam dirumah. Tak seperti biasanya yang bawel dan tak pernah dirumah. Selalu kesana kemari mencoba mencari hiburan karena kehidupannya yang cukup sepi. Kedua orangtuanya tak pernah karena sibuk dengan pekerjaannya. Teman-temannya pun juga jarang menemaninya hingga malam.
“Assalamualaikum” bel rumahsontak membuat Clara terbangun dari lamunannya. Terlihat dari tempatnya duduk mobil Inova silver berhenti tepat di depan rumahnya. Sembari merapikan ikatan rambutnya Clara berjalan menyusuri anak tangga menuju pagar depan rumah untuk membuka pintu. Hari ini kebetulan ada acara syukuran di rumah Tante Clara, jadi Bi Tini yang biasanya menemani Clara dirumah pergi ke rumah Tnate Clara untuk bantu-bantu menggantikan Mama Clara yang sedang pergi keluar kota. Clara memutuskan tak ikut dan memilih dirumah sendiri bersama Mang Tono. Mang Tono adalah supir yang selalu mengantar Clara kesana kemari yang udah dianggap Ayah Tiri bagi Clara. Mang Tono udah berada dikeluarga Clara sejak Clara masih umur 5 bulan. Tapi jam ini kebetulan Mang Tono sedang pergi member makan ikan di kolam milik Papanya yang berjarak 5 km dari rumahnya.
“gredek. . gredek. . gredek. . .”
Terdengar suara pintu gerbang besi dibuka. Clara mempersilahkan masuk. Tapi tamu itu menolak.
“Papa ada Nak?” tanyanya. Yah Pak Surya, teman bisnis Papa Clara di Bali.
“Aduh maaf Pak, Papa baru ke Singapore ngurus kerjaan disana. 3 hari lagi pulang.” Jawab Clara sembari menampakkan lesung pipinya. Mencoba ramah dengan teman Papanya yang sudah dikenalnya lama. Clara mencoba mempersilahkan masuk lagi. Tapi Pak Surya memilih pamit karena masih banyak urusan. Beliau hanya menitipkan kartu nama untuk Papa Clara. Clara menerima dengan senyum manisnya. Pak Surya pun segera meninggalkan Clara sendiri ydi depan pintu rumahnya. Tak lama Clara menutup pintu rumah dan kembali meneruskan lamunannya di tempat yang sama.
And baby . . .
Everytime you touch me.. .
I become a herro. .
I”II make you safe no metter where you are
And bring you. . .
Everything you ask for . . .,
Nothing us above me. .. .
I’m shinny like a candle in the dark. . .
When you tell me that you love me…
(weslife- When you tell me that you love me…)
Dering HP Clara menandakan SMS masuk. Clara meraih HP yang ada di sampingnya bergegas membuka SMS.
::sist , lagi apa?::
SMS dari Putra, SMS yang sering dikirimkan Putra untuk Clara akhir-akhir ini. Putra adalah teman Clara di SMA Pangudi Luhur.Anak paling oke di SMA PAngudi Luhur. Wajahnya chainis, kulitnya putih, tubuhnya tinggi sesuai dengan profesinya. Ya, pemain basket andalan SMA Pangudi Luhur. Karena itu dia terpilih sebagai kapten Tim basket SMA Pangudi Luhur. Pantas banyak gadis yang sering tebar pesona dihadapannya sampai membuat Putra risih.
Clara segera membalasnya. Tak berapa lama, Putra mengajak jalan. Karena cukup BT di rumah Clara menerima tawaran itu. Sesegera dia mandi dan berbenah diri agar terlihat lebih fresh. Dipakainya kaos merah berkerah dan celana jeans. Tak lupa sepatu cross putih dan jam kotak di tangan kanannya.
17.30 jam Clara melirik jam tangan yang baru saja dikenakannya. Merapikan tatanan rambutnya yang di gerai dan sedikit lipsgroos menempel di mulutnya.Tak berapa Putra datang menjemput Clara dirumah. Putra datang dengan hem silver yang sedikit terlihat karena tertutup oleh jaket kulitnya dan celana jeans. Anak muda kebanyakan lebih memilih mengenakan jeans dari pada celana kain. Mereka menganggap ini lebih elegan. Santai tapi gak nyantai. Lengkap dengan motor Tiger kesayangann juga.
“Mau kemana?” Tanya Clara membuka perbincangan sembari jalan menghampiri Putra. Putra hanya tersenyum manis dan menyodorkan helm di hadapan Clara menandakan ajakan untuk segera berangkat. Di jalan Clara hanya berkutat dengan HPnya. Putra pun juga begitu, ia konsen dengan stangan motornya. Sadar akan gadis cantik yang ada diboncengannya jadi harus hati-hati mengemudikan motornya.
***
Alun-alun kidul, begitu orang Jogja menamakan tempat ini. Sebuah tanah lapang yang dikelilingi jalan kecil. Karena letaknya disebelah selatan Keraton Jogja makanya namanya Alun-alun kidul. Kidul yang artinya adalah selatan. Tempat dimana biasanya kaula muda berkumpul. Bergerombol sesuai dengan aliran masing-masing.
Sedangkan Clara dan Putra memilih duduk di bawah pohon beringin yang besar sembari menikmati wedang ronde. Wedang ronde begitu namanya adalah minuman yang terbuat dari jahe, kacang dan roti. Disajikan panas dengan mangkuk yang khas. Wedang ini cocok untuk disantap saat-saat malam yang dingin seperti ini. Karena khasiat wedang ronde adalah untuk menghangatkan tubuh.
Tak berapa saat mereka menikmati wedang ronde pandangan mereka sontak tertuju pada sudut yang sama. Dimana terdapat jajaran sepeda yang nyala indah dihiasi lampu-lampu warna-warni. Sebut sepeda ini sepeda gandeng, karena bentuknya yang gandeng. Desain dari 2 sepeda yang dijadikan satu.Sepeda ini disewakan untuk umum. Hanya dengan uang 15.000 dapat meminjam sepeda ini selama kurang lebih 1 jam. Cukup lah untuk berkeliling Jogja yang indah ini. Tanpa dikomando mereka bergegas menghabiskan wedang ronde yang udah mulai dingin dan bergegas menuju jajaran sepeda itu.
“2 jam mang” kata Putra singkat kapada pemilik sewa. Yang maksudnya Putra akan menyewa selama 2 jam.
“Tigapuluh Ribu den” sahut pemilik sepeda gandeng itu. Segera Putra mengambil uang disaku dan menyerahkannya.
“Naik Clar.” Ajak Putra. Berharab Clara segera naik di jok yang ada di belakang.
“Tapi, aku gak bisa naik sepeda. Aku belum pernah.” Jawab Clara dengan sedikit takut karena dia belum pernah naik sepeda gandeng yeng beginian.Sepeda yang biasa aja dia belum begitu lancar.
“Ga apa-apa, kan aku yang didepan. Buruan ahh.” Suara Putra bermaksud merayu dan meyakinkan Clara bahwa tak kan ada sesuatu hal buruk yang terjadi. Gaya rayuan cowok agak sedikit beda sama cewek. Cowok cenderung to the point aja. Langsung jebrat-jebret. Clara pun takluk dengan ajakan Putra. Dia segera naik di jok belakang.
***
Asik mereka berdua memutari kota Jogja yang ramai. Kerlap-kerlip lampu jalanan membuat mala mini semakin sempurna. Di tambah juga, malam ini bertepatan dengan malam 1 Suro ada ritual di Kraton Yogyakarta. Sejenis perayaan tahun baru, karena memang ini juga tahun baru, tahun baru Hijriyah .Mulai dari putaran lingkungan Tamanan Sari, stasiun Tugu dan Malioboro. Apa yang menjadi jantung kita Jogja habis dilalap mereka berdua malam ini. Tiba mereka di titik nol derajat.
Titik nol derajat bisa dibilang tempat pusat Jogja. Letaknya di depan benteng vendebrug, benteng yang didirikan oleh pejajah Belanda saat menempati kota Jogjakarta ini. Disamping kanan kirinya juga terdapat Gedung Agung, Kantor Pos, Bank Indonesia dan di titik ini juga diletakkan patung para pahlawan seperti Ki Hajar Dewantara. Beliau adalah pahlawan dibidang pendidikan. Dan Gedung Agung merupakan tempat pemerintahan dimana Ibu kota Indonesia saat itu pernah dipindahkan di Jogja karena Jakarta sedang genting di serbu oleh penjajah.
“Haus gak?” Tanya Putra sok perhatian kepada Clara yang terlihat kelelahan. Mengayuh sepada melingkari Jogja membuat mereka kehilangan energy cukup banyak. Clara mengangguk tersenyum menandakan tubuhnya butuh tambahan ion.
“Aku cari minum dulu ya Clara sayang?” goda Putra kepada Clara.
“Aku ikut.” Rengek Clara, tapi Putra menahannya. Dilepaskannya jaket kulit hitam, di kenakannya di tubuh Clara yang terlihat sedikit kedinginan diterpa hembusan angin malam.
“Kamu tunggu disini ya, jangan kemana-mana aku akan kembali. Aku sayang kamu.” Diantara remang-remang tempai itu. Tiba-tiba kecupan bersarang di dahi Clara. Dan kata-kata itu sontak membuat Clara tercengang. Clara hanya membalas dengan senyuman mengisyaratkan bahwa dia menyetujuinya.
***
“Putraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………” teriakan gadis itu memecahkan tempat yang ramai ini. Semua pandangan orang disekitarnya langsung tertuju pada Clara. Sebuah mobil Jazz metalik dengan kecepatan maksimal menabrak Putra yang sedang menyeberang jalan Clara berlari menghampiri Putra yang sudah dikerumuni banyak orang. Dia berusaha menerobos kerumunan itu dan didapatinya Putra yang telah berlumuran darah.
Di peluknya Putra menangis, tak ada kata-kata yang bisa dikeluarkan lagi. Mulunya seakan terkunci. Air matanya bagaikan grojokan seribu yang tak dapat dibendung lagi. Dipandanginya tangan Putra yang berusaha mengambil sesuatu di kantong saku celananya. Clara berusaha membantu mengambilkannya. Kotak kecil merah, mirip dengan tempat cincil kalau adaorang nikahan.
“In---ni b---uu----aa--- t k----aa---mmuu. Aaa---kuu---ssaa----yaang---ka—mmm----uuuu” Kata Putra dengan nada terbata-bata sembari menyodorkan sebuah kotak merah kepada Clara. Belum sempat Clara mengucapkan sepatah kata pun, Putra sudah lemas terbujur kaku di dekapan Clara.
“Makasih Tra, walaupun kamu gak dengar aku ngomong tapi aku yakin kamu bisa merasakan ini. Aku sayang kamu.” Kecupan manis diberikan Clara di kening Putra berharab Putra dapat hidup kembali dengan kekuatan cinta darunya. Tapi tidak ini mustahil. Clara bukan peri yang bisa menghidupkan orang yang telah tiada dan bukan pula Bidadari yang bisa mengantarnya ke Surga. Clara hanyalah Clara gadis kecil yang cukup sempurna.
Meja Belajar, 6 Agustus 2010
Meylia Candrawati
*dikutip dari kisahnyata dengan 80% ngaco..20% benar-benar..
thank to
#si boy. . .
mohon caci makinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar