Sesal selalu melingkupi hidupku
Luka semakin hari semakin menyayat kalbuku ini
Pesonamu semakin dasyat terbayang dibenakku
Ketika ku lepaskan dirimu
Ingin kuraih hatimu kembali
Tapi aku tlah terlambat
Sudah ada cinta yang lain
Dihatimu . . .
Aku ga tau tentang perasankku ini setelah lepas dari Awan. Aku juga ga tahu apa ku rasakan kemarin. Saat melihanya dengan gadis lain. Memang aku udah gag punya hak lagi untuk ceburu tapi jujur saat itu juga aku terbakar cemburu. Bahkan air mataku sempat menetes saat kejadian itu berlangsing, dan langsung aku berusaha menyadarkan dirikku sendiri kalau air mata itu adalah air mata terakhir untuk Awan. Karenaku sadari air mata itu tak akan merubah ataupun mengembalikan Awan disampingku lagi. Air mata itu hanya akan membuat diriku semakin terpuruk dan terpuruk. Semuany telah usai, semuanya telah berakhir, aku sudah memutuskan untuk melepaskannya dan kini tinggal penyesalan yang melingkupi hatiku.
“Pagi, Dev!” sapa Vinta dari seberang sana
“Pagi, Vin. Tumben pagi-pagi udah nelpon?”
“Happy Brithday ya, Dev. Dah 17 tahun berarti dah gede lo jadi harus tambah dewasa ya, jangan cengeng mulu..haha,…and jangan lupa makan-makannya.”
“Thanks ya, Vin. Soal makan-makan beres deh !”
“oke gua tunggu ya?? Ehem…. Ada yang sepesial dong, kan 17 nee.”
“Biasa aja tuh Vin, ga ada yang sepesial.”
“loh, , emangnya Awan gak kasih kado ?? minimal selamat dulu deh..hehehe.” Tanya Vinta kaget
“Enggak ehem.. mungkin besok.”
Jawabku optimus berharap Awan besok akan memberiku ucapan. Tapi aku juga ragu apa Awan masih inget sama ulang tahunku, kan sekarang dia udah ada cewek baru.
“Ha? Emangnya ulang tahunmu besok ya Dev?”
“Enggak Vin, bener sekarang kok. Hehe… biasa kan itu Awan suka telat kasih ucapanya.” Jawab Devi berusaha menutupi kesedihan
“Dev, lo masih ngantuk yaa tapi jangan tidur di telpon.”
“Iya ne,Vin. Aku mo nerusin mimpiku lagi ya.”
“ Ya udah tidur lagi sana, dasar kebo hee… Bye!”
Aku meletakkan HP dideket kepala berharap terbangun karena Awan telfon kasih ucapan. Hatiku perih ketika ingat hal-hal bodoh yang pernah kulakukan pada Awan. Ahhh…. andai waktu dapat kembali ke beberapa bulan yang lalu. Aku ingin menghindari kesalahan itu. Tapi aku tau semua itu hanyalah mustahil.
Tiba-tiba. . .
“Sapa sich?” aku berusaha menerka dengan menerbangkan tanganku ke wajah dan atas rambutnya. Kali aja bisa bantu ingat ini orang yang menerkaku.
Rambut lurus, panjang, diiket pake kucir,wajahnya bullet kaya bola basket. Tangannya gede kaya kentongan. Dan lumayan gemuk juga. sejenak aku berfikir. Ciri-ciri siapa ya?
“Ambar ya? Lepasin !”
“He,,,,hehee… kok ngerti tho?” nada suara Ambar desikit kecewa
“Aku kan punya indra ke 7 Mbar, hehe” jawabku asal
”Siap ya, Vin. Satu. . . dua . . . tiga !”
Dengan dilepasnya terkaan tangan Ambar dari mataku. Sebuah angka 17 berdiri dengan tegaknya diatas kue tart berasa didepan mataku. Lalu terdengar kor selamat ulang tahun dari teman-teman terdekatku. Aku ga tau apa yang aku rasakan. Aku ga tau apa yang ada di hatiku, hanya air mata bahagia yang mewakili keharuanku.
“Selamat Ulang Tahun Devi ! semoga apa yang kamu cita-citakan tercapai.” Kata Awan seraya menjabat erat tanganku.
Tanpa menghiraukan apapun, aku langsung memeluk Awan dan menumpahkan kebahagianku di dadanya yang nyaman.
“thank’s Wan!”
Meylia Candrawati
ini udah lama tapi baru sempet uplud..
mohon cercaannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar