Nadia dalam Kado Ulangtahun
Mobil Jazz merah tepat berada di depan rumah megah bertingkat. Bunyi klaksonnya sontak membuat penjaga rumah kaget dan bergegas membuka pintu. Karena ini pertanda sang pemilik rumah datang. Tak berapa lama gadis cantik turun dari dalam mobil dan segera menekan tombol lock pada remote control mobilnya memastikan mobil dalam keadaan terkunci. Dan segera meninggalkan garasi menuju kamar kesayangannya. Rumah ini memang di desain kusus dari garasi langsung ke kamarnya tanpa harus melewati isi dalam rumah.
Gadis blasteran Arab dan Indonesia. Cantik memang, putih, hidungnya mancung dan ditambah dua lesung di pipinya saat senyum terkembang. Nadia, begitu orang memanggilnya. Nadia Siregar, anak kedua dari pengusaha kaya Siregar.
Nadia segera menghempaskan badan di ranjang tidur tanpa harus melepas jaket dan sepatu sport kesayangannya . Hari ini cukup membuatnya lelah setelah seharian melakukan aktivitas. Dilirknya jam tanggan hitam di tanggan kirinya, tepat mununjukkan pukul 19.00 WIB.
Nadia duduk termangu sembari di temani sebungkus rokok dan sebotol minuman penghangat di sofa, di sudut kamarnyanya yang bisa dibilang point view .Bagian di salah satu rumah yang memang di design bisa mengamati seluruh keadaan luar dengan leluasa.
Suasana malam ini tak sindah biasanya. Langit hitam kelam, membuat bulan tak leluasa menampakkan wajahnya untuk menerangi gelapnya malam.
And baby everytime you touch me …
I become a hero …
I”II make you safe no metter where you are
And bring you everything you ask for …
Nothing us above me …
I’m shinny like a candle in the dark …
When you tell me that you love me…
(weslife- When you tell me that you love me…)
Dering handphone Nadia menandakan ada SMS masuk. Nadia meraih HP yang ada di sampingnya dan bergegas membuka SMS.
“ Lagi apa Nad?”
Terlihat dilayar handphone nama Clara. Clara adalah teman dekat Nadia semenjak duduk di bangku SMP hingga sekarang. SMP Bina Nusantara, SMA Negeri 77 Jakarta dan kini mereka juga sama-sama di salah satu Universitas swasta ternama di Jakarta. Walaupun tidak berada dalam satu fakultas tapi mereka tetap menjalin hubungan baik. Nadia di fakultas ekonomi sedangkan Clara di fakultas kedokteran.
Nadia segera membalas SMS Clara.
“Lagi di rumah, tempat biasa Clar.”
Tak berapa lama selang Nadia membalas SMSnya, Clara tiba-tiba mengejutkannya di depan pintu kamar. Ini merupakan hal yang biasa dilakukan Clara saat berkunjung ke rumah Nadia. Sehingga Nadia tetap stay cool di tempat duduknya tanpa respon apa-apa.
“Gile, juteknya gak ilang ni anak. Masa sahabatnya datang gak ada sambutan khusus?” omel Clara yang merasa di cuekin.
“Emangnya harus gimana Clar? Harus ngundang artis ternama gitu kalo kamu datang? Bisa miskin dadakan lah”, sahut Nadia sembari menghisap batang rokoknya.
Malam semakin larut. Hembusan anggin pun semakin hebat menusuk tulang membuat Nadia dan Clara terlelap di sofa.
***
Matahari menampakkan pesonannya, cahayannya menyusup di sela-sela rongga fentilasi kamar Nadia membuatnya terbangun dari tidur lelapnya. Dilihatnya jam digital di dinding pojokan kamarnya, 07.45 WIB. Sembari memmbangunkan Clara, Nadia bergegas bangun dan menuju kamar mandi karena pukul 08.00 Nadia ada acara pawai club mobil Jazz yang di ikutinya dua tahun lalu.
Tak butuh waktu lama bagi Nadia untuk membersihkan seluruh badannya. Sambil berteriak menyuruh Clara untuk segera berbenah diri. Dikenakannya kaos polo merah dan jeans item. Tak lupa jaket clubnya. Dikenakannya jilbab merah marun yang senada dengan garis-garis merah kemejannya dan sedikit eyeliner di matannya. Nadia memang selalu mengenakan jilbab kemanapun dia pergi.
“ Sempurna”, gumam Nadia dalam hati.
Diraihnya jam tanggan (merk) beserta kunci mobil di meja dan segera meninggalkan kamar menuju garasi sambil berteriak memberi tanda kepada Clara untuk lebih cepat.
Tak berapa lama dua gadis telah siap di dalam mobil dan perlahan meninggalkan rumah megah itu. Di dalam mobil bagaikan tak ada pertanda kehidupan, Nadia yang sangat fokus dengan pancalan gasnya dan Clara yang menahan nafas karena takut akan kecepatan mobil yang di tumpanginya.
***
Hanya butuh waktu 10 menit Nadia untuk sampai di JCC ( Jakarta C Center), tempat dimana anggota club mobil Jazz seluruh Indonesia berkumpul untuk melakukan tour keliling Jawa. Dimulai dari Jakarta- Bandung- Jogja- Surabaya dan berakhir di Madura. Event ini diikuti hampir 500 mobil jazz dengan segala modification. Karena selain tour event ini juga memperlombakan modifikasi Jazz terbaik.
Tepat pukul 09.00 WIB arak-arakan mobil Jazz pun di berangkatkan dari Jakarta menuju Bandung. Dengan foraider dari pihak Kepolisian dan pengamanan Tim Medis dari PMI. Semuannya terlihat di persiapkan secara matang oleh panitia penyelenggara agar berjalanlancar sesuai rencana.
Setibannya di Bandung peserta segera beristirahat, mensuplay tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja di tenda-tenda yang telah di persiapkan oleh panitia di sekitaran Gedung Sate. Dan sebagian melaksanakan sholat jamaah di tanah lapang. Tapi lain dengan Nadia, dia hanya termangu tetap di dalam mobilnya. Sedangkan Clara entah kemana. Nadia memang hampir tidak pernah melaksanakan sholat. Padahal saat masih duduk di bangku SMP Nadia merupakan anak yang rajin dan soleh. Tapi semenjak kematian kakaknya Nadia seakan kehilangan semuannya. Dia menjadi orang yang urakan, bahkan kerjaannya merokok dan bermabuk-mabukan.. Setelah istirahat di rasa cukup, perjalanan pun dilanjutkan meninggalkan Bandung dan menuju Jogja.
Titik nol kilometer merupakan tempat dimana acara malam gebyar di Jogja dilakukan. Ratusan mobil Jazz berjajar rapi di alun-alun Utara. Sedangkan sang pemiliknya memeriahkan malam gebyar tepat di depan Benteng Vendebrung. Benteng yang merupakan saksi saat perebutan kekuasaan daeran Jogja ini yang dipimpin oleh ,, , ,, . Alunan music jazz memecahkan kesunyian kota Jogja malam itu.
Yang lain asyik bersenandung tapi Nadia hanya diam. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dirinya. Tiba-tiba Pandu menghampiri dan menarik tangan Nadia berjalan menuju panggung. Pandu adalah teman club Nadia yang sering memberikan nasihat-nasihat kepada Nadia. Pandu juga merupakan teman dekat almarhum kakak Nadia. Hal yang sungguh tak disangka Nadia, tiba-tiba Pandu berlutut dihadapan Nadia.
“Nad, selamat ulangtahun, aku sayang kamu”, ucap Pandu lirih sembari menyodorkan kado dan setangkai mawar merah. Tapi untuk Nadia suara itu bagaikan petir yang memecahkan gendang telinga. Kejaadian yang sungguh tak disangka Nadia. Nadia hanya bengong sambil menerima kado dari Pandu. Dia malah tak sadar kalau malam itu merupakan ulangtahunnya. Karena Nadia memang tak biasa merayakan ulangtahun secara besar-besaran.
Sinetron singkat pun berlalu. Nadia menuju mobilnya untuk menaruh kado dari Pandu. Sambil berjalan dibukannya kotak merah yang dibungkus dengan motif batik. Entah apa artinya.Nadia sungguh terkejut. Mukena dan Al-Quran kecil di temukannya dalam kado itu. Nadia berlari bergegas menuju mobilnya. Air mata yang tak terbendung keluar dari matanya bagai air terjun. Nadia merasa dirinya kini tak berarti apa-apa. Dia merasa telah melupakan Allah. Dia merasa ingkar, sampai terbesit di pikiran Nadia apakah Allah akan memaafkannya.
Entah apa yang menggugah Nadia,tiba-tiba dia meninggalkan mobilnya dan menuju Masjid Agung yang berada di barat alun-alun utara sambil membawa kado dari Pandu. Segera Nadia mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat taubat. Air matapun tetap tak dapat terbendung. Kini malah semakin deras. Nadia merasa dirinnya sungguh telah berdosa. Nadia mengadahkan kedua tangannya memohon ampun kepada Allah.
Meylia Candrawati
Mohon komentarnnya kok ini cerpen datar banget.
Makasih yang rela memberikan komentarnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar